TVRINews, Bengkulu Utara
Universitas Bengkulu memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengembangkan budidaya maggot sebagai alternatif pakan sekaligus solusi pengelolaan limbah organik. Program ini dilaksanakan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Omah Ijo, Desa Tanjung Dalam, Kecamatan Ulok Kupai, Kabupaten Bengkulu Utara.
Kegiatan bertajuk “Penguatan Kapasitas P4S Ulok Kupai melalui Pelatihan dan Pendampingan Budidaya Maggot” ini dilaksanakan oleh tim dosen Universitas Bengkulu yang diketuai Afdhal Kurniawan Mainil dari Teknik Mesin, bersama Aan Erlansari dari Sistem Informasi dan Helmizar dari Teknik Mesin.
Program tersebut didukung pendanaan tahun anggaran 2026 dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, khususnya Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat.
*Atasi Biaya Pakan dengan Potensi Lokal*
Kecamatan Ulok Kupai memiliki potensi pertanian, perikanan, dan peternakan yang cukup besar. Namun, masyarakat juga menghadapi persoalan limbah organik rumah tangga serta tingginya harga pakan komersial yang dapat meningkatkan biaya produksi peternak.
Kondisi tersebut mendorong tim pengabdian memperkenalkan budidaya larva Black Soldier Fly atau BSF, yang dikenal sebagai maggot. Larva BSF memiliki kemampuan mengurai limbah organik sekaligus menghasilkan biomassa yang mengandung protein dan lemak sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pakan.
P4S Omah Ijo yang dipimpin Hendri Suratin sebelumnya telah melakukan budidaya maggot secara mandiri. Namun, pemanfaatannya masih terbatas pada maggot segar. Tingginya kadar air membuat maggot segar memiliki daya simpan pendek dan nilai jual yang relatif rendah.
*Diperkuat Teknologi Pascapanen*
Untuk meningkatkan nilai tambah hasil budidaya, tim Universitas Bengkulu memberikan pelatihan sekaligus pendampingan teknologi pascapanen.
Sejumlah peralatan juga diserahkan untuk mendukung kegiatan tersebut, antara lain oven pengering, mesin pencacah pakan maggot, serta mesin pengolah maggot kering menjadi tepung pakan.
Teknologi tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat menurunkan kadar air maggot, memperpanjang masa simpan, sekaligus menghasilkan produk pakan alternatif dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Selain dosen, mahasiswa Teknik Mesin Universitas Bengkulu turut terlibat dalam kegiatan. Mereka mendampingi masyarakat dalam perakitan dan pengoperasian peralatan, pengeringan maggot, pengolahan maggot menjadi tepung, hingga perawatan preventif mesin.
*Dorong Ekonomi Sirkular di Tingkat Desa*
Program ini menargetkan sedikitnya 30 persen hasil panen maggot segar dapat diolah menjadi maggot kering dan tepung maggot. Pengolahan tersebut diharapkan meningkatkan nilai jual produk serta mendorong peningkatan pendapatan kelompok.
Selain aspek ekonomi, program ini juga diarahkan untuk memperkuat penerapan ekonomi sirkular dengan memanfaatkan limbah organik sebagai bahan baku budidaya maggot.
Tim menargetkan keterlibatan sedikitnya 70 persen rumah tangga di wilayah sasaran dalam pemilahan sampah organik. Upaya ini diharapkan dapat mengurangi limbah sekaligus menciptakan sumber bahan baku berkelanjutan bagi budidaya maggot.
Ketua P4S Omah Ijo, Hendri Suratin, menyambut baik program pendampingan tersebut. Menurutnya, teknologi dan pengetahuan yang diberikan menjadi peluang bagi masyarakat untuk mengurangi ketergantungan terhadap pakan pabrikan yang harganya relatif tinggi.
Ke depan, fasilitas yang telah diberikan akan dikelola secara mandiri oleh P4S Omah Ijo dan diharapkan dapat berkembang menjadi pusat pembelajaran budidaya maggot serta edukasi pengelolaan limbah organik terpadu bagi masyarakat di Kecamatan Ulok Kupai dan sekitarnya.










