TVRINews, Bengkulu
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu memperkuat pengembangan kopi lokal sebagai komoditas ekonomi unggulan dengan membangun kolaborasi antara petani, pelaku usaha, dan pemerintah.
Salah satu daerah sentra penghasil kopi di Provinsi Bengkulu adalah Kabupaten Rejang Lebong. Sebanyak 83,96 persen rumah tangga usaha perkebunan di kabupaten tersebut menggantungkan hidupnya pada komoditas kopi.
Dengan fasilitas hingga pendampingan yang diberikan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, kini petani kopi di Bengkulu sudah naik kelas. Para petani tidak lagi menjual hasil kebunnya kepada tengkulak dengan harga rendah, melainkan dibina untuk memiliki merek produk kopi sendiri.
Selain itu, petani kini menjadi pemasok tetap di sejumlah kedai kopi ternama hingga hotel. Kondisi ini membuat petani kopi menjadi lebih sejahtera karena harga jual biji kopi relatif stabil dan tinggi serta tidak mengikuti gejolak harga kopi dunia.
Dengan begitu, petani kopi juga menjadi lebih disiplin memanen kopi berkualitas, yakni buah petik merah. Hal ini mendorong kualitas panen kopi para petani menjadi lebih baik.
Saiful Ansori, salah seorang petani sekaligus pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kopi di Desa Wisata IV Suku Menanti, Kecamatan Sindang Dataran, Kabupaten Rejang Lebong, menyebut dalam sebulan dirinya rutin memasok sekitar 50 kilogram biji kopi roasting (sangrai) ke kedai-kedai kopi dan hotel.
"Saya fokus penjualan itu hanya memenuhi permintaan dari coffee shop yang ada di Indonesia. Ada Coffee Shop di Bengkulu dan juga hotel-hotel di Jakarta," ungkap Saiful, pemilik UMKM Rodaba Coffee, Selasa, 15 September 2026.
Sementara itu, peluang ekspor kopi asli Bengkulu kini semakin terbuka. Pasar dunia mulai melirik kopi Bengkulu yang dinilai memiliki cita rasa khas. Sebab, dataran tinggi seperti Kabupaten Rejang Lebong dan Kepahiang yang beriklim sejuk membuat buah kopi lambat matang sehingga rasanya menjadi lebih baik.
Untuk pertama kalinya, Provinsi Bengkulu mengekspor komoditas kopi ke pasar Eropa. Sebanyak 19,2 ton kopi asal Kabupaten Kepahiang diekspor langsung dari Bengkulu menuju Italia tanpa melalui provinsi lain. Hal ini menjadi momentum bagi Bengkulu untuk terus berkiprah di pasar dunia.
Wakil Gubernur Bengkulu, Mian, mendorong agar pemerintah daerah selalu melakukan pendampingan terhadap petani sehingga kegiatan ekspor tersebut dapat terus berlanjut.
"Kita harus terus berpikir mengenai kesiapan bahan bakunya (kopi) harus bener terus dan sustainable, oleh karena itu kementerian juga telah melaunching 1.300 bibit kopi bervarietas unggul," katanya.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, mengatakan kegiatan ekspor langsung dari Bengkulu menuju Eropa tersebut menjadi sinyal peningkatan ekonomi bagi petani komoditas kopi.
"Ekspor itu secara harga lebih baik dibandingkan domestik, walaupun ada permintaan kualitas yang juga lebih baik. Mudah-mudahan melalui ini kesejahteraan jadi meningkat," ujar Wahyu.
Terlebih, menurut Wahyu, pasokan kopi di Provinsi Bengkulu lebih banyak dibandingkan permintaan domestik. Dengan demikian, pasar ekspor sangat terbuka luas untuk diisi oleh kopi Bengkulu.










