TVRINews, Bengkulu Tengah
Kampung Batik Panca Mukti di Desa Panca Mukti, Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah, mulai mengembangkan pemasaran digital untuk memperluas jangkauan penjualan produk batik.
Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh tim dosen Universitas Bengkulu (UNIB). Kegiatan ini menjadi bagian dari pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi dengan fokus pada inovasi digital marketing berbasis website katalog, QR Code, media sosial, dan marketplace.
Ketua tim pengabdian, Intan Zoraya, mengatakan pengembangan pemasaran digital dilakukan karena produk Batik Panca Mukti sudah cukup banyak diproduksi, tetapi masih menghadapi kendala dalam menjangkau konsumen yang lebih luas.
“Batik di Desa Panca Mukti ini sudah banyak diproduksi, tetapi kondisi yang kami temui dari sisi pemasaran masih sulit dijangkau. Sehingga, kami mengharapkan pemasaran digital ini menjadi salah satu upaya untuk memperluas pasar,” ujar Intan Zoraya, Kamis, 13 Agustus 2026.
Melalui program ini, tim Universitas Bengkulu memberikan pendampingan kepada pengelola Kampung Batik Panca Mukti dalam mengembangkan dan mengelola website, media sosial, serta marketplace.
Pendampingan tersebut dilakukan dalam dua hingga tiga kali pertemuan lanjutan. Selain mengajarkan pengelolaan website, tim juga menyiapkan fitur QR Code yang dapat digunakan konsumen untuk mengetahui cerita dan filosofi di balik produk batik.
“Konsumen nantinya tidak hanya membeli batiknya saja, tetapi juga bisa mengetahui narasi atau histori dari batik ini. Ada storytelling-nya, sehingga orang bisa tahu makna motif ini seperti apa dan cerita di balik batik ini bagaimana,” jelasnya.
QR Code tersebut nantinya dapat mengarahkan konsumen pada informasi mengenai berbagai motif Batik Panca Mukti, termasuk motif Gunung Pupuk yang menjadi salah satu motif batik di Bengkulu Tengah.
Konsep ini diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi produk batik. Konsumen tidak hanya mendapatkan produk berupa kain, tetapi juga memahami cerita dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Pemilik Kampung Batik Panca Mukti, Nanik Hidayati, menyambut baik pendampingan yang diberikan Universitas Bengkulu. Menurutnya, digital marketing selama ini memang sudah sering didengar, tetapi pemanfaatannya untuk mendukung penjualan masih belum maksimal.
“Dengan adanya pengabdian dari perguruan tinggi ini, kami menjadi lebih memahami bagaimana penjualan digital. Selama ini digital marketing sudah sering terdengar, tetapi bagi kami pelaku usaha belum begitu mengikuti. Kami baru sebatas mendengar dan selama ini lebih banyak menjadi konsumen,” kata Nanik.
Nanik berharap pengembangan website dan pemasaran melalui marketplace dapat membuat produk Kampung Batik Panca Mukti semakin mudah ditemukan dan dibeli oleh masyarakat dari berbagai daerah.
Ia juga menilai penyampaian cerita serta filosofi di balik setiap motif menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta budaya.
“Dengan adanya ini pasti akan menjangkau lebih luas. Kemudian, produk kami, filosofi, dan cerita-ceritanya akan tersampaikan. Jadi, bukan hanya selembar kain, tetapi ada makna di balik kain yang kami produksi,” ungkapnya.
Dengan pemasaran digital, masyarakat nantinya tidak perlu datang langsung ke Kampung Batik Panca Mukti untuk mengenal maupun membeli produknya. Cukup melalui telepon seluler, konsumen dapat melihat katalog, mengetahui cerita di balik motif, hingga mengakses produk yang ditawarkan.
“Dengan pasar yang luas dan akses yang mudah, orang tidak harus datang ke lokasi. Cukup buka HP, sambil istirahat di rumah pun sudah bisa. Jadi, tidak harus selalu tatap muka dengan kami yang ada di Kampung Batik Panca Mukti,” pungkas Nanik.
Pengembangan pemasaran digital ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing Kampung Batik Panca Mukti sekaligus memperkenalkan produk dan cerita budaya Bengkulu Tengah ke pasar yang lebih luas, mulai dari tingkat lokal, nasional, hingga internasional.










