TVRINews, Bengkulu
Tim Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Bengkulu mengembangkan inovasi digitalisasi dan pengembangan motif batik berbasis cerita rakyat sebagai upaya melestarikan warisan budaya sekaligus meningkatkan daya saing batik khas Bengkulu. Program ini dilaksanakan melalui skema Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Riset yang melibatkan akademisi dan pengrajin batik lokal.
Program tersebut berangkat dari keprihatinan terhadap semakin berkurangnya pemahaman masyarakat terhadap cerita rakyat Bengkulu. Karena itu, cerita rakyat diangkat menjadi inspirasi dalam pengembangan motif batik yang dipadukan dengan teknologi digital sehingga tidak hanya menjadi produk sandang, tetapi juga media edukasi dan pelestarian budaya.
Ketua Pelaksana Pengabdian kepada Masyarakat, Nafri Yanti, mengatakan pengembangan motif batik berbasis cerita rakyat merupakan upaya memperkenalkan kembali kekayaan budaya Bengkulu kepada masyarakat melalui karya batik yang memiliki nilai filosofi.

"Melalui pengembangan motif batik berbasis cerita rakyat ini, kami ingin menjadikan batik bukan hanya sebagai produk budaya, tetapi juga media untuk mengenalkan kembali cerita rakyat Bengkulu kepada generasi muda dan masyarakat luas," ujar Nafri Yanti, Minggu, 19 Juli 2026.
Sementara itu, anggota Tim Pengabdian kepada Masyarakat, Verani Indiarma, menjelaskan setiap motif dirancang berdasarkan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam cerita rakyat Bengkulu. Salah satunya adalah motif Puspa Cempaka yang terinspirasi dari legenda Putri Gading Cempaka.
"Setiap motif memiliki filosofi yang kuat dan merepresentasikan sejarah serta kearifan lokal Bengkulu. Harapannya, masyarakat tidak hanya mengenakan batik, tetapi juga memahami makna di balik setiap motif," kata Verani Indiarma.
Selain menghadirkan desain baru, inovasi ini juga dilengkapi dengan teknologi QR Code pada setiap produk batik. Saat dipindai menggunakan telepon pintar, konsumen dapat mengakses cerita rakyat yang menjadi inspirasi motif beserta makna filosofinya. Inovasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai jual batik sekaligus memperluas pemasaran hingga tingkat nasional maupun internasional.
Pengrajin batik, Evrien Mega Sari, menyambut baik inovasi tersebut. Menurutnya, pengembangan motif berbasis cerita rakyat memberikan nilai tambah bagi batik Bengkulu karena menghadirkan identitas budaya yang kuat pada setiap produk.
"Inovasi ini sangat membantu pengrajin karena batik Bengkulu memiliki ciri khas yang berbeda. Konsumen tidak hanya membeli batik, tetapi juga mendapatkan cerita dan filosofi yang terkandung di dalamnya," ucap Evrien Mega Sari.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan pelaku usaha, inovasi digitalisasi motif batik berbasis cerita rakyat diharapkan mampu meningkatkan daya saing batik Bengkulu sekaligus menjaga kelestarian budaya daerah di tengah perkembangan zaman.










