TVRINews, Bengkulu
Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) terus mendorong petani kelapa sawit agar semakin mandiri dalam mengelola kebun sekaligus menekan biaya produksi.
Melalui Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit yang dibiayai BPDP, bersama Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), Kementerian Pertanian, dengan PT Citra Widya Education (PT CWE) sebagai mitra pelaksana, BPDP menggelar pelatihan pupuk organik untuk petani.
Pelatihan ini dihadiri oleh ratusan peserta dari tiga kabupaten, yakni Kabupaten Seluma, Kabupaten Bengkulu Selatan, dan Kabupaten Bengkulu Tengah.
Sebelumnya, gelombang pertama telah diselenggarakan pada pekan sebelumnya dengan peserta dari tiga kabupaten tersebut.
Pelatihan dibuka secara resmi oleh Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu, H. Herwan Antoni, yang hadir mewakili Gubernur Bengkulu. Pembukaan ditandai dengan pemukulan gong oleh Sekda bersama Direktur Utama PT CWE dan Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Provinsi Bengkulu, serta penyerahan ID card peserta secara simbolis.
Direktur Utama PT CWE, Stefanus Nugroho Kristono, menyampaikan bahwa pelatihan ini bertujuan mendorong petani agar mandiri dalam menghasilkan pupuk organik.
Melalui pupuk organik, petani diharapkan dapat menggunakan pupuk organik untuk mendukung produktivitas lahan sekaligus menjaga kesuburan tanah secara berkelanjutan, hingga mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.
Ia mengajak petani untuk melihat potensi bahan organik di sekitar kebun, seperti limbah pelepah, tandan kosong, kotoran ternak, dan gulma, yang tidak kalah bermanfaat dibandingkan pupuk anorganik.
“Jangan melihat pupuk organik hanya sebagai pupuk murah. Lihatlah pupuk organik sebagai bagian dari investasi terhadap tanah kita, karena tanah yang sehat merupakan modal utama untuk menghasilkan tanaman yang produktif," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima tvrinews.com pada Kamis, 22 Oktober 2026.
Ia menegaskan bahwa pupuk organik tidak serta-merta menggantikan pupuk kimia, tetapi sesuai kebutuhan tanaman, kondisi tanah, ketersediaan unsur hara, dan target produksi.
Menurutnya, kelompok tani dapat mengembangkan usaha pupuk organik sehingga mengolah limbah pertanian dan peternakan sesuai standar yang baik, sehingga kelompok usaha yang mandiri dapat mengelola pupuk organik secara mandiri.
Sementara itu, Kepala Dinas TPHP Provinsi Bengkulu, Sri Harlin Depta, menyambut baik pelaksanaan pelatihan ini.
Ia mengatakan pelatihan ini merupakan upaya bersama untuk memajukan kelapa sawit di Bengkulu.
Kepala Pusat Pelatihan Pertanian, BPPSDMP Kementerian Pertanian, M. Apuk Ismane, yang hadir mewakili Kepala Pusat Pelatihan Pertanian, memberikan pesan kepada peserta agar mampu menerapkan ilmu yang didapat secara praktis dan mudah diterapkan di lapangan, sesuai kondisi riil perkebunan di lapangan.
Ia juga meminta narasumber dan instruktur untuk menyampaikan materi yang sesuai kondisi riil perkebunan di lapangan.
Keenam poin tersebut meliputi peningkatan kapasitas SDM pertanian, penguasaan teknis pembuatan pupuk organik, ketepatan aplikasi pupuk sesuai jenis tanaman dan kondisi tanah, penerapan hasil pelatihan di wilayah masing-masing, penguatan kelembagaan dan kondisi, serta penguasaan inovasi.
Selain lebih hemat biaya, pupuk organik yang diolah dengan teknik benar terbukti dapat meningkatkan kualitas tanah, mengurangi limbah, dan menghasilkan produktivitas tanaman yang lebih tinggi.
Karena itu, pemerintah mendorong penggunaan pupuk organik yang diolah dari limbah pertanian, terutama limbah tandan kosong, kotoran ternak, dan limbah pelepah yang dapat membantu mengatasi limbah yang bermasalah.
Di akhir pelatihan ini, para peserta diharapkan memahami ilmu yang didapat di kebun masing-masing.
Melalui pelatihan ini, para peserta diharapkan memahami ilmunya di kebun masing-masing.










