TVRINews – Mukomuko, Bengkulu
Seekor harimau sumatera ditemukan mati di Mukomuko hanya berselang sehari setelah penemuan bangkai dua gajah di kawasan hutan yang sama.
Otoritas konservasi Indonesia tengah menyelidiki penyebab kematian seekor harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang ditemukan di Kabupaten Mukomuko, Bengkulu.
Insiden ini terjadi di tengah duka lingkungan hidup setelah dua ekor gajah sumatera ditemukan mati di wilayah yang berdekatan pekan ini.
Bangkai harimau yang tergolong satwa sangat terancam punah tersebut pertama kali ditemukan oleh warga di dekat aliran sungai kecil di Desa Bukit Makmur, Kecamatan Penarik.
Berdasarkan laporan di lapangan, kondisi fisik satwa tersebut dilaporkan mulai membengkak saat ditemukan pada Jumat 1 Mei 2026.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung, Agung Nugroho, mengonfirmasi bahwa personel teknis telah dikerahkan ke lokasi untuk melakukan investigasi awal.
"Kami masih melakukan klarifikasi dan tim sudah berada di lokasi untuk menelusuri penyebab pasti kematian harimau tersebut," ujar Agung dalam keterangan resminya.
Pihak BKSDA menyatakan bahwa prosedur nekropsi (autopsi pada hewan) akan segera dilakukan untuk menentukan apakah kematian tersebut disebabkan oleh faktor alamiah, konflik dengan manusia, atau tindakan kriminalitas kehutanan.
Krisis di Bentang Sebelat
Rentetan peristiwa ini menggarisbawahi rapuhnya ekosistem di Bentang Sebelat. Hanya 24 jam sebelumnya, para petugas menemukan bangkai satu induk gajah beserta anaknya di area konsesi hutan produksi di Mukomuko.
Hingga saat ini, penyebab kematian kedua gajah tersebut juga masih menjadi misteri yang belum terpecahkan.
Kehilangan beruntun ini memicu alarm bagi para aktivis lingkungan. Populasi satwa endemik di wilayah ini terus menghadapi tekanan hebat dari ekspansi perkebunan ilegal dan penyusutan habitat.
Wakil Menteri Kehutanan, Rohmat Marzuki, sebelumnya mencatat angka yang mengkhawatirkan bagi keanekaragaman hayati kawasan tersebut.
Ia menyebut populasi gajah sumatera di Bentang Sebelat kini diperkirakan hanya menyisakan 25 ekor.
Secara global, data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengestimasi populasi harimau sumatera di alam liar kini berada di bawah angka 400 ekor.
Otoritas berwenang terus mengimbau masyarakat untuk kooperatif dalam menjaga koridor satwa dan segera melaporkan segala bentuk interaksi negatif antara manusia dan hewan dilindungi demi mencegah kepunahan yang lebih cepat.










