TVRINews, Bengkulu Tengah
Pesantren Nurul Quran di Kabupaten Lebong, Bengkulu, mengembangkan usaha kopi berbasis budaya dan pelestarian lingkungan melalui Rumah Produksi Kopi "Ka Ga Nga". Nama Ka Ga Nga diambil dari aksara Rejang yang memiliki makna "mulai belajar", sekaligus menjadi identitas produk kopi yang mengusung nilai konservasi dan kearifan lokal.
Bahan baku Kopi Ka Ga Nga berasal dari kopi robusta hasil budidaya petani perempuan yang tergabung dalam kelompok pengelola kebun kopi tangguh iklim (KOPPI SAKTI) di Kabupaten Lebong, Kepahiang, Rejang Lebong, dan Bengkulu Tengah. Dalam pengelolaannya, para petani tetap menerapkan praktik pertanian yang mengedepankan pelestarian lingkungan, partisipasi perempuan, serta nilai-nilai budaya setempat.
Setiap pekan, Rumah Produksi Kopi Ka Ga Nga mampu menghasilkan sekitar 50 hingga 80 kilogram kopi. Produk yang dipasarkan terdiri dari tiga varian, yakni petik merah, kopi semang, dan kopi lanang premium. Harga jualnya berkisar antara Rp200 ribu hingga Rp250 ribu per kilogram, dengan pilihan kemasan 100 gram dan 250 gram.
Dita M Haikal dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Lebong mengatakan, keberadaan Kopi Ka Ga Nga tidak hanya menjadi sarana pemberdayaan ekonomi bagi pesantren, tetapi juga menjadi media edukasi bagi para santri melalui pelatihan wirausaha kopi dari hulu hingga hilir.

"Produk ini tidak hanya memberdayakan santri melalui pelatihan wirausaha kopi, tetapi juga mengkampanyekan kelestarian lingkungan," kata Dita dalam keterangan yang diterima tvrinews.com pada Sabtu, 30 Mei 2026.
Saat ini, Kopi Ka Ga Nga telah mengantongi sertifikat Produk Industri Rumah Tangga (PIRT). Jangkauan pemasarannya pun terus berkembang, tidak hanya di wilayah Lebong dan Kota Bengkulu, tetapi juga telah menembus sejumlah kota besar di Pulau Jawa.
Menurut Dita, hasil penjualan kopi tersebut dimanfaatkan untuk mendukung operasional pesantren sekaligus membiayai berbagai kegiatan pelestarian lingkungan yang dilakukan oleh para petani perempuan anggota KOPPI SAKTI.
"Sebagian hasil penjualan dikembalikan untuk operasional pesantren dan kegiatan pelestarian lingkungan yang dilakukan para petani perempuan kebun kopi tangguh iklim," ucapnya.
Ke depan, Pemerintah Kabupaten Lebong berharap Kopi Ka Ga Nga semakin dikenal luas sebagai produk unggulan daerah yang tidak hanya memiliki kualitas, tetapi juga membawa misi pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan penguatan identitas budaya Bengkulu.










